Cara Mengatasi Siswa Yang Bandel

Cara Mengatasi Siswa Yang Bandel

Debrarealtor – Kita sering mendengar kasus siswa di kelas yang “salah”. Hal tersebut tentunya mengganggu karena mengganggu proses belajar mengajar. Kasusnya pun bermacam-macam, ada yang ringan, sedang dan berat. Jika ini terjadi, guru biasanya menjadi kambing hitam. Memang, pendidikan membutuhkan partisipasi yang saling melengkapi antara guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah. Maka, sebagai guru yang cerdas, kita perlu memiliki trik cerdas untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut cara terbaik menurut Informasi Pendidikan No #1

1. Lakukan Pendekatan

Guru adalah pengendali utama hubungan komunikasi antar siswa di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan membaca sinyal yang ditunjukkan siswa, baik melalui bahasa tubuh, verbal maupun tindakan. Kita perlu mempelajari kondisi siswa yang dicap sebagai siswa “pengganggu” di kelas. Banyak siswa yang benar-benar bermasalah di rumah atau di lingkungan bermain membawa suasana hatinya ke dalam lingkungan sekolah.

Di sinilah Anda membutuhkan perhatian seorang guru yang terkadang dapat bertindak sebagai “teman” bagi siswa. Luangkan waktu untuk membenamkan diri Anda dan dengarkan suasana hati siswa. (Maaf) Jangan hanya mengejar tujuan resume. Kita perlu menjadi seseorang yang selalu ada ketika siswa membutuhkan tempat untuk melepas lelah. Dekati mereka dengan berbagai metode agar tidak muncul pemikiran negatif yang dapat mematikan karakter mereka sebagai siswa yang kreatif. Jika guru bisa mengenal siswa lebih dalam, maka niscaya siswa yang “berubah-ubah” bisa diperlakukan dengan lebih sabar dan bijak.

2. Bangun Koordinasi dengan Orang Tua

Guru harus bisa berkomunikasi dengan orang tua. Pasalnya, perilaku bermasalah banyak siswa disebabkan oleh kekecewaan orang tua di rumah, kecerobohan, merusak rumah atau sejenisnya. Tentunya harus hati-hati menyentuh daerah ini, perlu trik dan pendekatan kekeluargaan yang humanis agar ada keakraban dan keterbukaan antara orang tua dan guru. Langkah ini dianggap positif jika orang tua secara sukarela mengaktifkan keran komunikasi terhadap kondisi penerimaan anak di rumah, kecenderungan sikap positif dan negatif, pemanfaatan waktu luang, perhatian orang tua dan berbagai hal yang berkaitan dengan komunikasi dengan anak. di rumah. Koordinasi dengan orang tua ini dilandasi oleh komitmen yang kuat bahwa segala upaya yang kita lakukan adalah untuk kepentingan terbaik anak kita. Baik guru maupun orang tua memposisikan siswa sebagai “individu unik” yang membutuhkan bimbingan dan perhatian.

3. Berikan sedikit Dispensasi

Terkadang kita membutuhkan sedikit langkah yang tidak biasa ketika berhadapan dengan siswa yang sering membuat ulah. Tujuannya bukan untuk membuatnya istimewa, tapi kami ingin mencuri perhatiannya agar suasana hatinya bisa menerima kehadiran kami, bahwa kami bersamanya. Dispensasi diberikan dengan syarat tidak merugikan siswa lain, misalnya dengan memakai kaos kaki berwarna yang tidak sesuai ketentuan atau memakai topi di kelas. Ingat, pengesampingan atau konsesi ini hanya dapat dilakukan sesekali dan tidak berarti bahwa kami mendukung tindakan Anda. Guru BK dapat memperjelas tindakannya dalam bimbingan kelompok, sedangkan guru mata pelajaran dapat bekerjasama dengan guru BK.

4. Problem Solving

Sebagai guru, kita harus bisa mendefinisikan masalah bagi siswa yang dicap sebagai “pembawa pesan” melalui hasil fokus dan koordinasi kita. Kemudian kita tentukan penyebab masalah, apa yang memotivasi siswa untuk melakukannya, dan apa motivasinya. Setelah itu, kami berdialog dari hati ke hati dan meminta siswa menentukan skala prioritas yang harus mereka lakukan untuk keluar dari masalah. Kami kemudian memilih berbagai opsi solusi dan menerapkan solusi tersebut (untuk guru BK, ini dilakukan dalam konseling individu). Keberhasilan proses ini bergantung pada kedekatan dan signifikansi komunikasi yang dibangun oleh guru dan siswa. Kami berharap melalui pendekatan problem solving, siswa yang berlabel “trolling” ini mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri sehingga terbentuk karakter siswa tersebut.

5. Memberikan Rasa Tanggung Jawab

Mulailah dari yang kecil, seperti membawa bantuan atau menghapus papan. Memberikan tanggung jawab ini secara perlahan akan “membuat marah” siswa untuk merasa dihargai, diterima, dan dibutuhkan di lingkungannya. Lambat laun, perilaku buruk yang Anda garap akan terbengkalai, digantikan oleh aktivitas positif.

Anda mungkin juga suka...